BATU, 12 Juli 2026 – Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh daiyah Muslimat NU Jatim melakukan transformasi dakwah dari metode konvensional menuju dakwah digital yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, transformasi dari mimbar fisik ke ruang digital merupakan ikhtiar strategis untuk memperluas jangkauan dakwah sekaligus menghadirkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, menyejukkan, dan mencerahkan di tengah derasnya arus informasi.
Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat menjadi Keynote Speaker kegiatan Silaturahim Himpunan Da'iyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) dan Ikatan Haji Muslimat (IHM) Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang mengusung tema “Muslimat NU Berhijrah Menuju Dakwah Digital untuk Peradaban”, di Royal Orchids Garden Hotel, Kota Batu, Sabtu (11/7).
Menurut Khofifah, kegiatan tersebut memiliki makna strategis karena mempertemukan para daiyah, penggerak majelis taklim, serta daiyah Muslimat NU yang selama ini menjadi ujung tombak dakwah dan pendidikan keagamaan di tengah masyarakat.
“Ini pertemuan antara daiyah, himpunan daiyah dan majelis taklim Muslimat NU. Kekuatan Muslimat itu kan di sosial keagamaan khususnya majelis ta'lim. Para bu Nyai selalu ingin ada _update_ materi dan metode dakwahnya,” kata Khofifah.
Ia menilai, kesadaran untuk melakukan transformasi metode dakwah sebenarnya telah tumbuh sejak beberapa waktu lalu. Sebetulnya, lanjutnya, transformasi ini sudah dilakukan secara nasional dan komprehensif sejak musim covid lalu.
Oleh karenanya, perubahan cara masyarakat belajar dan berinteraksi pada akhirnya menuntut dakwah juga hadir di ruang yang bisa diakses jamaah secara luas, dari mimbar fisik ke mimbar digital.
“Sekarang kesadaran ini cukup kuat, mereka ingin melakukan transformasi dari dakwah secara konvensional dari mimbar fisik ke mimbar digital hingga media sosial,”imbuhnya.
Informasi saat ini, bergerak sangat cepat bahkan melintasi batas wilayah. Karena itu, ia meyakini dakwah harus mampu menjangkau masyarakat kapan pun dan di mana pun melalui berbagai platform digital.
“Kalau dakwah secara digital itu diimplementasikan, maka sudah pasti bisa diakses setiap saat . _Anytime anywhere_. Dan kalau di Indonesia, itu 250 Juta orang bisa mengakses dakwah kita kalau dilakukan secara digital, kalau global itu 6 Milyar lebih. Ini bisa mendunia dan meluaskan jejaring,” imbuhnya.
“Dan dari berbagai studi secara _scientific_ lebih dari 60 persen masyarakat itu mengakses sosial media, yang dicari itu adalah referensi keagamaan. Dari hal seperti itu, Muslimat punya potensi luar biasa,” terangnya.
Lebih lanjut Khofifah menyebut, perkembangan teknologi telah mengubah pola masyarakat dalam mencari informasi keagamaan. Saat ini, berbagai _platform_ media sosial menjadi ruang baru yang dipenuhi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, sekaligus memperoleh referensi keislaman.
“Kalau ruang digital diisi oleh konten yang menyejukkan, moderat, dan mencerahkan, maka dakwah Ahlussunnah wal Jamaah akan semakin luas manfaatnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Khofifah juga mendorong terbangunnya kolaborasi lintas generasi di lingkungan Muslimat NU. Menurutnya, pengalaman dan substansi dakwah yang dimiliki kader Muslimat perlu dipadukan dengan kreativitas generasi muda agar pesan dakwah dapat diterima lebih luas di ruang digital.
Ia menambahkan, penyusunan konten dakwah harus memperhatikan segmentasi sasaran. Jika menyasar Generasi Z atau Gen Z, maka materi dan gaya penyampaiannya perlu dekat dengan realitas yang mereka hadapi.
“Betapa pentingnya dakwah itu bisa tepat sasaran. Kalau viewers itu menyasar ke Gen Z maka tema nya harus banyak menyentuh kebutuhan Gen Z. Ala ala mereka, maka memang format seperti kartun itu sangat penting, ada _backsound_ itu juga penting,” jelasnya.
“Misalnya konten jangan cepat galau ya. Esok itu tetap ada harapan, ada _new hope_. Jadi ada pesan khusus yang tersirat. Tentu dengan bahasa yang gen Z bisa mencerna dan memahami sehingga menyukai,” katanya.
Karenanya, ia mengajak daiyah Muslimat NU beradaptasi dalam memperkuat literasi digital sekaligus menghadirkan konten-konten positif yang mampu menangkal disinformasi dan saat yang sama dapat menjaga nilai-nilai Aswaja An Nahdliyah.
“Muslimat NU tidak boleh hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi produsen narasi kebaikan yang menyejukkan dan mencerdaskan masyarakat,” tegasnya.
Untuk mewujudkan transformasi tersebut, Khofifah menawarkan empat pilar strategi dakwah digital Muslimat NU, yakni memperkuat literasi digital, memproduksi konten positif, mengembangkan UMKM digital sebagai penguatan ekonomi umat, serta membangun parenting digital guna melindungi generasi muda dari dampak negatif ruang siber.
Ia meyakini Muslimat NU memiliki modal yang sangat besar untuk melakukan transformasi tersebut. Khofifah menilai selain memiliki jutaan anggota, Muslimat NU juga didukung ribuan majelis taklim, lembaga pendidikan, PAUD, koperasi, UMKM, hingga jaringan kader yang tersebar sampai tingkat desa.
“Maka jika seluruh potensi ini terhubung secara digital, Muslimat NU akan menjadi kekuatan dakwah terbesar di Indonesia,” ungkapnya.
“Panjenengan ini punya kekuatan dakwah terbesar didunia, panjenengan semua luar biasa dan biasa diluar,” jelasnya.
Tak hanya itu, Khofifah juga memaparkan berbagai program unggulan Muslimat NU seperti Paralegal, Akademi Pendidikan Muslimat NU (APMNU), Pesantren Ramadhan Balita, Mustika, hingga Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) dinilai menjadi fondasi kuat untuk memperluas manfaat organisasi di era digital.
Sementara itu, Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur, Masruroh Wahid menyampaikan bahwa Silaturahim Hidmat Muslimat NU dan Ikatan Haji Muslimat (IHM) NU Jawa Timur menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyatukan langkah kader dalam menjawab tantangan dakwah di era digital.
Menurutnya, seluruh kader Muslimat NU merupakan bagian dari pejuang Nahdlatul Ulama yang mengabdikan diri melalui khidmah kepada umat.
“Panjenengan semua adalah orang yang berperan dalam perjuangan Nahdatul Ulama. Kita ini berjihad fi sabililillah, berkomitmen berjihad di jalan Allah. Ini adalah khidmah yang sesuai dengan zamannya,” kata Masruroh.
Ia juga menegaskan bahwa dakwah Muslimat NU juga harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, dakwah yang selama ini dilakukan secara konvensional perlu diperkuat melalui ruang digital agar pesan-pesan Islam Ahlussunnah wal Jamaah dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Dakwah kita mesti berhijrah. Dakwah konvensional sampai hari ini harus berhijrah menjadi dakwah digital, untuk menjadi dakwah yang bisa didengar, dibaca dan disenangi masyarakat,” pungkasnya.
