IDUL FITRI, HALAL BI HALAL, DAN WARISAN MBAH WAHAB

IDUL FITRI, HALAL BI HALAL, DAN WARISAN MBAH WAHAB

Oleh: Zainal Muttaqin
Hari raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti-nanti, tidak hanya oleh umat Islam di seluruh dunia, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia yang kaya akan ragam budaya. Di Indonesia, Idul Fitri lekat dengan sebuah tradisi khas yang jarang dijumpai di negara lain: Halal Bi Halal.
Bagi kita, Halal Bi Halal adalah lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Ia menjadi ruang terbuka untuk saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan yang mungkin sempat merenggang. Tradisi ini seolah menjadi “bahasa rekonsiliasi” yang sangat efektif di tengah masyarakat kita yang majemuk.
Salah satu tokoh penting yang berjasa membumikan tradisi ini adalah KH Abdul Wahab Hasbullah, atau yang akrab kita kenal sebagai Mbah Wahab. Ulama besar asal Tambakberas, Jombang, Jawa Timur ini adalah salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus peletak dasar Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum. Beliau bukan hanya seorang guru bangsa, tetapi juga pahlawan nasional yang meninggalkan warisan sosial yang luar biasa.
Sebagai santri Tambakberas, saya ingin bernostalgia, mengingat kembali nasihat-nasihat Mbah Wahab dan kisah Halal Bi Halal yang dahulu sering diceritakan oleh para guru saya.

Halal Bi Halal: Sederhana tapi Bermakna
Sejarah mencatat, sekitar tahun 1948, ketika suhu politik Indonesia memanas pasca kemerdekaan, Presiden Soekarno meminta nasihat dari Mbah Wahab. Dengan kebijaksanaan khasnya, beliau menyarankan: “Bung Karno, kumpulkan mereka, bikin Halal Bi Halal!” Sebuah gagasan sederhana namun mampu menjadi jembatan penting dalam meredakan ketegangan politik saat itu.
Sejak saat itu, Halal Bi Halal berkembang menjadi budaya nasional yang terus kita lestarikan. Tak hanya di lingkungan keluarga atau RT, tetapi juga menjadi ruang rekonsiliasi di kantor, organisasi, hingga lembaga-lembaga negara.
Islam sendiri sangat mendorong umatnya untuk gemar memaafkan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 134:
“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Baca Juga :  Gubernur Khofifah Perjuangkan Gelar Pahlawan KH Yusuf Hasyim, Atas Jasa Besar Bagi Agama dan Bangsa Indonesia

Makna Jabat Tangan dalam Maaf
Apa yang paling sering kita lakukan saat Halal Bi Halal? Ya, berjabat tangan. Di Indonesia, salaman adalah simbol maaf yang kuat. Saat kita menggenggam tangan orang lain, kita juga melepaskan beban emosi, menurunkan gengsi, dan membuka diri untuk memulai hubungan yang lebih baik.
Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah dua orang Muslim yang berjumpa lalu bersalaman, melainkan dosa keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud)
Jadi, berjabat tangan bukan sekadar gestur sopan, melainkan komunikasi personal yang penuh makna. Ia adalah pernyataan damai yang tulus, tanda bahwa kita ikhlas memaafkan dan membuka lembaran baru, atau istilah populernya, “kosong-kosong.”
Kata “Maaf” Sebagai Diplomasi
Mbah Wahab bukan hanya ulama, tetapi juga dikenal sebagai sosok yang mahir dalam diplomasi. Beliau memahami bahwa bangsa ini berdiri di atas fondasi keberagaman. Dalam berbagai forum, baik di pesantren, masyarakat umum, hingga kalangan elit politik, beliau mengajarkan pentingnya menahan diri dan mengutamakan persatuan.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, Mbah Wahab mengajarkan apa yang disebut sebagai komunikasi rekonsiliasi yaitu membangun kembali relasi yang renggang melalui empati, ketulusan, dan simbol budaya seperti berjabat tangan, senyuman, serta duduk bersama. Semua ini terangkum dalam tradisi Halal Bi Halal ala Mbah Wahab.
Teori symbolic interactionism mengajarkan bahwa manusia memberi makna pada setiap tindakan sosial, termasuk Halal Bi Halal. Ketika kita berjabat tangan dan saling memaafkan, kita sedang membangun ulang makna sebuah hubungan, dari yang mungkin retak, menjadi utuh kembali.
Bahkan lebih dalam lagi, dari kacamata ilmu komunikasi, Halal Bi Halal ala Mbah Wahab ini juga bisa kita sebut sebagai “komunikasi damai”, yang terbukti mampu menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda pandangan, di berbagai kondisi dan tingkatan masyarakat.

Baca Juga :  Untuk Kenyamanan Jemaah, PPIH Siapkan Bus Antarkota dengan Spek Khusus